Kamis, 28 April 2016

Cinta yang Bertengger Di Buku Sastra

            Lelaki paruh baya itu melangkahkan kakinya dengan lembut mengitari taman menjajakan dagangannya. Beruntung banyak orang yang sedang berkunjung di taman ini. Langkah kakinya mengiringi senyumnya yang menggambarkan lelah. Dagangan itu ialah dagangan yang dibuat sepenuh hati oleh istrinya, untuk keberlangsungan hidup mereka. Di dagangan terakhir itu, yang bersandar pada nampan yang lusuh, aku melihatmu, membeli dagangan terakhir tersebut dengan senyum yang hanya kau yang punya. Lelaki itu terlihat sangat puas dan mulai meninggalkan taman dengan keceriaannya. Dari lelaki paruh baya itu, mataku mulai beralih kepada dirimu. Wanita dengan rambut terurai, panjang dan berkilauan. Kecantikanmu bahkan tak terhalangi oleh buku yang sedang kau pegang sambil kau baca itu. Aku tahu kau tak menunggu seseorang tetapi hanya sedang merehatkan pikiranmu.

Minggu, 03 April 2016

Bunga Langit Tanpa Warna


Untuk kekasih yang telah hilang,


Ada yang putih bersih mewarnai langit yang jatuh di pangkuan kekasih
Ada yang bersinar di antara pelangi dan awan hitam yang berhembus di kerangkauan
Engkau yang berdiri tegak, tersenyum tanpa aku tahu
Jika saja mawar yang kau genggam tak layu
'kan ku bias dengan serpihan air mata
Warnamu memudar seperti jatuh dari yang terpendar
Biar saja langit berbicara pada warnamu,
meminjam pelangimu yang telah kau tikam dengan belati kesepian
Kau layu seperti bunga yang menangis di musim kemarau.

Selasa, 09 Februari 2016

Kritik Sosial Dalam Kisah Percintaan “Awal dan Mira”

            Setelah pusing memikirkan tumpukan tugas, saya merasa butuh hiburan ringan. Lelah sekali rasanya mengerjakan tugas. Meskipun begitu, tugas masih saya kerjakan. Dan beruntung saya memilih tugas yang terbilang menghibur. Tak saya duga naskah “Awal dan Mira” sangat ringan dibaca. Seperti novel saja. Saya bahkan merasa seperti sedang membaca novel ketimbang membaca naskah drama. Tapi ketika saya lihat, naskah ini memang sengaja diubah oleh penerbit pertamanya, yaitu majalah Indonesia yang ternyata lebih mengedepankan karya prosa. Untuk itulah naskah ini dibuat seperti cerita pendek.

Sabtu, 21 November 2015

Beropini

            Ada saja perkataan tiap orang tentang cinta. Bagi mereka pengagum cinta, bercinta adalah Tuhan dalam hidupnya. Atau mungkin tak setinggi itu mereka mengaguminya. Toh, tetap saja mereka mengatakan hiduplah dengan cinta agar hidupmu damai. Mendengar pernyataan macam itu membuat otakku sedikit terganggu. Jika dengan cinta saja bisa damai, mengapa beberapa orang masih membenci? Bukankah semua orang menginginkan kedamaian? Itulah anggapanku terhadap mereka yang mengaku cinta adalah segalanya. Sebuah pernyataan yang konyol.

Selasa, 03 November 2015

Sebuah Ruang yang Hilang

Kali ini aku sedang tak berniat berbincang. Dekatlah padaku dan biarkan aku sedikit egois malam ini. Padamu aku ingin bercerita tentang kerinduan yang sedang kurasakan. Ada sesuatu yang terasa hilang dalam bayangannya dan aku tak mau itu terjadi. Namun, seperti yang sudah kau tahu, aku hanya lelakimu yang biasa saja, bukan sang penyihir dengan tongkat kayunya yang mampu mengubah apa yang ingin diubah. Pada malam ini biarkanlah kau menjadi kenangan yang hilang itu.

Rabu, 14 Oktober 2015

Kunang-Kunang Jalang

Aku berjanji pada seekor kunang-kunang yang jalang
Melerai percikan darah yang menetes pada lantai yang kotor
Membentuknya kembali menjadi sebuah cahaya yang bergetar kencang
Hingga mampu menembus kamar-kamar usang
Terus pergi sampai mati tak bertemu
Hidup hanyalah ilusi belaka
Yang mengaku tuhan di dunia
Kamu tak tahu
Ketika nafasmu sedang di kudeta raja malam
Hingga akhirnya kau dirajam dengan belati muda
Aku dan kau
Darah dalam cahaya
Si kunang-kunang jalang

Selasa, 06 Oktober 2015

Kertas-Kertas


Apa yang akan aku tulis pada kertas putih yang terlihat masih suci ini? Tidak ada. Aku tak mau melukainya barang setitik. Kasihku pada kertas tersebut sama seperti bapak pada anaknya. Membelainya dengan lembut penuh perasaan. Tapi ini hanyalah kertas. Putih dan tak memiliki sesuatu yang hebat. Hanya bidang yang diperuntukkan tulis atau coretan. Goresan tinta pun takkan melukainya. Bahkan sebaliknya, memberi warna tersendiri pada tubuhnya. Rasanya aku ingin mencumbunya.