Kamis, 14 Juni 2018

Seribu Kenangan


"Semua orang setidaknya harus memiliki sepicis kenangan agar dirinya bisa bersedih karena menyadari bahwa kenangan adalah prasasti yang merekam suka luka di masa lalu," ucap Lavinia suatu hari.

Kamis, 13 April 2017

Kita

Tidak seperti malam biasanya, Nat. Malam ini jadi lebih kelabu hanya karena hujan yang terus mengguyur. Sudah tidurkah kau sekarang?

Sabtu, 25 Februari 2017

Matamu, tatapmu


Bukan pisau itu yang mencoba
menusukku.
Tapi matamu, tatapan yang tak akan
pernah aku lepaskan
padahal aku tahu
tatapan itu kian menusuk.
Tatap itu, mata itu, yang aku cintai.
Sekali lagi lihat mataku dengan
matamu, dengan tatapmu.
Aku ingin mencumbunya, tatapmu,
matamu.
Peluk tatapku dengan matamu.
Dari mata kita bercinta.

Kamis, 01 Desember 2016

Faisal Fathur, Mahasiswa UNJ Sebagai Peserta Termuda Dalam Kelas Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta


Untuk pertama kalinya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuka kelas kritik sastra. Pendaftaran dibuka pada tanggal 1 Juli 2016 dan ditutup pada tanggal 27 Juli 2016. Namun hal yang unik ialah bagaimana proses seleksi dilakukan. Peserta diminta untuk mengirim contoh kritik sastra dan akan dipilih oleh pengajar langsung. Hanya 16 orang yang terpilih yang dapat mengikuti kelas tersebut. Pengajar dalam kelas kritik sastra sendiri adalah AS Laksana dan Martin Suryajaya. Kegiatan ini dilakukan dalam delapan pertemuan, dimulai dari bulan Agustur hingga September 2016.

Rabu, 03 Agustus 2016

Jemput Aku di Jakarta

Secangkir kopi hitam kuaduk perlahan untuk mengentalkan rasanya. Pagi itu matahari bersaing dengan rimbunan awan untuk mencuri perhatian langit yang bertengger di kota Bandung. Tapi rasanya aku masih menggeliat di dalam mimpiku meskipun aku setengah sadar mengaduk kopi itu.
Bayanganmu, yang biasa menjadi bunga tidurku, masih terus berputar mencari jalan keluar dari kepalaku-- atau memang sengaja terpenjara untuk menggodaku. Baru saja semalam kita bertemu dan kau hanya selintas menyapaku. Pagi ini kau kembali singgah di halaman rumah. Membuka pagar besi yang setiap pagi gemboknya selalu dibuka oleh pak Parman, pembantuku, lalu menyapaku dengan senyuman itu. Senyuman yang tak berubah.

Kamis, 21 Juli 2016

Asmara Melodika

Coba dengarkan,
Alunan melodius dari piano Beethoven yang menggema
Hanya untuk menemani kita berdansa.
Coba lihat,
Pena bulu yang menari indah dari tangan Shakespeare yang lelah
Hanya untuk menjamu mata kita.
Kita,
Rama dan Sinta yang menjalin cinta di hari jingga
Senja semakin berembun di puncak asmara
Di kahyangan jiwa kita bersenandung riang.
Aku mengecup mesra bibirmu yang lembut
Jemari kita beradu
Mata kita saling bersetubuh
Malam pekat makin gaduh
Kita terkubur ke dalam alunan simfoni yang teduh.

Minggu, 05 Juni 2016

Siren

           Air matanya jatuh tanpa ada aba-aba dari diri Siren. Ia tak kuasa mendengar kabar bahwa suaminya tewas dalam kebakaran. Padahal baru dua minggu mereka bertukar cincin di depan penghulu. Masih ramai sekali perbincangan dia dengan teman-temannya di media sosial mengenai pernikahan mereka itu. Tapi ternyata kenyataan lebih kejam dari harapan. Ya, sebelumnya ia mempunyai harapan dengan suaminya, Atma, untuk memberi nama anak pertamanya. Suaminya berkata sudah menyiapkan nama yang baik untuk bayinya nanti. Namun, suaminya saja bahkan masih belum tahu apakah ia akan menjadi ayah atau belum. Siren mengerang antara marah dan kecewa. Ia mengutuk Tuhan yang seakan mencuri kebahagiaannya. Selang lima menit ia pun pingsan di sandaran kakaknya, Rahma.